Selamat Membaca :
Di SMK Harapan Nusantara, terdapat sebuah Klub Literasi dan Numerasi yang rutin berkegiatan setiap hari Jumat sore. Klub ini beranggotakan 24 siswa dari tiga jurusan berbeda:
- 9 siswa dari Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ),
- 8 siswa dari Akuntansi,
- 7 siswa dari Desain Komunikasi Visual (DKV).
Mereka tidak hanya membaca cerita fiksi, tetapi juga belajar menghubungkan bacaan dengan data, waktu, serta perencanaan belajar. Pada awal semester, Bu Sinta pembina klub memilih sebuah novel fiksi berjudul “Jejak Bayang di Kota Tua”. Novel tersebut terdiri atas 180 halaman dan dibagi menjadi 9 bab. Klub memberi waktu membaca selama 6 hari, sehingga rata-rata target bacaan adalah:
180 halaman : 6 hari = 30 halaman per hari
Namun, kemampuan membaca tiap siswa tidak sama. Pada pertemuan berikutnya, Bu Sinta meminta mereka mencatat perkembangan bacaan. Dari hasil rekap, diperoleh data berikut:
- 10 siswa membaca lebih dari 35 halaman per hari
- 8 siswa membaca 25–30 halaman per hari
- 6 siswa membaca kurang dari 20 halaman per hari
Data tersebut kemudian ditempel di papan tulis agar bisa dianalisis bersama.
Perjalanan Membaca Para Anggota Klub
Raka, siswa jurusan TKJ, awalnya menganggap fiksi hanya hiburan. Pada hari pertama, ia hanya membaca 20 halaman. Namun pada hari ketiga, ia mulai tertarik pada tokoh utama cerita dan meningkatkan bacaan menjadi 40 halaman per hari. Dalam 4 hari, ia sudah membaca 120 halaman.
Raka menghitung bahwa:
- sisa halaman novel = 180 − 120 = 60 halaman
- jika ia membaca 30 halaman per hari, maka ia membutuhkan 2 hari lagi untuk selesai
Ia menuliskan refleksi sepanjang 350 kata, berisi perubahan sudut pandangnya tentang keberanian tokoh utama dalam menghadapi masa lalu keluarga. Sementara itu, Laila dari jurusan Akuntansi membuat jadwal membaca terstruktur di buku catatannya. Pada awalnya, ia membaca 25 halaman per hari. Namun setelah menghitung ulang, ia menyadari:
- jika menambah 10 halaman per hari,
- maka total bacaan hariannya menjadi 35 halaman,
- sehingga ia bisa menyelesaikan novel 1 hari lebih cepat dari jadwal.
Bagi Laila, membaca fiksi tidak hanya melatih imajinasi, tetapi juga kemampuan menghitung, merencanakan waktu, dan membuat strategi belajar. Di sisi lain, Nadia dari jurusan DKV lebih tertarik pada deskripsi suasana kota dalam cerita. Ia membuat sketsa ilustrasi dari dua adegan penting di bab ketiga. Walaupun ia baru membaca 90 halaman dalam 5 hari, ia menyadari bahwa kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan membaca.
Diskusi Kelas: Menghubungkan Cerita dan Data
Pada pertemuan akhir, anggota klub berdiskusi mengenai hasil membaca. Bu Sinta membagikan rekap akhir:
- Siswa yang selesai tepat waktu: 18 orang
- Siswa yang selesai lebih cepat: 4 orang
- Siswa yang belum selesai: 2 orang
Dari hasil tersebut, siswa diminta menarik kesimpulan sederhana:
- jumlah siswa yang selesai membaca = 18 + 4 = 22 orang
- persentase siswa yang selesai = 22 / 24 × 100% = 91,6% (≈ 92%)
Bu Sinta menjelaskan bahwa numerasi tidak hanya soal hitung–menghitung, melainkan kemampuan membaca informasi, data, dan perbandingan dalam kehidupan nyata.Makna yang Mereka Temukan Melalui kegiatan membaca fiksi ini, para siswa belajar bahwa:
- fiksi melatih empati dan imajinasi,
- numerasi membantu mengelola waktu, membuat keputusan, dan membaca data,
- keduanya saling melengkapi dalam proses belajar.
Raka merasa lebih berani mengungkapkan pendapat.
Laila menjadi lebih teratur dalam merencanakan kegiatan.
Nadia menemukan inspirasi untuk karya ilustrasinya.
Pada akhir sesi, Bu Sinta berkata,
“Fiksi memang bersifat imajinatif, tetapi proses membacanya nyata.
Di dalamnya ada pengalaman, pemikiran, dan kemampuan bernalar yang akan kalian gunakan di masa depan. Sejak saat itu, ruang literasi tidak lagi sekadar tempat membaca, melainkan ruang bertumbuh bagi imajinasi dan logika para siswa SMK.